Begitu kaki menjejak di De Djawatan, udara terasa lebih teduh, cahaya matahari jatuh seperti disaring ribuan daun kecil, dan deretan trembesi tua membentuk kanopi raksasa yang bikin suasana seolah pindah babak ke dunia lain. Ini bukan hutan lebat yang gelap dan liar, melainkan “ruang hijau” yang tertata alami, dengan batang besar, dahan melengkung, serta epifit dan pakis yang menempel cantik di rantingnya. Tidak heran tempat ini sering dijuluki mirip Fangorn Forest, karena aura tuanya kuat, tetapi tetap ramah untuk dijelajahi pelan pelan.
Mengenal De Djawatan yang Ikonik di Selatan Banyuwangi
De Djawatan adalah wanawisata di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Luas kawasan yang kerap disebut berada di kisaran 3,8 hektare, dikelola oleh Perhutani, dan terkenal karena barisan pohon trembesi yang dipenuhi tumbuhan epifit.
Yang membuatnya unik, pepohonan di sini tidak hanya besar, tetapi juga memiliki bentuk cabang yang “mendramatisasi” ruang tanpa perlu dibuat buat. Dahan meliuk, lumut dan pakis menambah tekstur, lalu hamparan hijau di bawahnya memberi kontras yang menenangkan. Banyak pengunjung datang untuk foto, sebagian lain sekadar ingin merasakan sensasi berjalan di bawah kanopi raksasa yang ademnya terasa sampai ke bahu.

Lokasi dan Cara Menuju De Djawatan dari Titik Populer Banyuwangi
Letaknya berada di kawasan Benculuk, Cluring, sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Banyuwangi, tergantung kondisi lalu lintas. Karena berada di jalur selatan, De Djawatan juga sering dipadukan dengan rute wisata lain seperti area pantai selatan atau perjalanan menuju spot alam di Banyuwangi bagian selatan.
Jika kamu berangkat dari pusat kota, rute paling aman adalah mengikuti jalur utama menuju arah Cluring Benculuk. Banyak peta digital sudah menandai titik “De Djawatan” atau “Hutan Djawatan”. Begitu mendekat, suasana desa dan lahan hijau akan mulai terasa lebih dominan, lalu gerbang kawasan wisata biasanya mudah dikenali karena arus kendaraan pengunjung cukup jelas pada akhir pekan.
Agar perjalanan lebih nyaman, datanglah lebih pagi. Selain udara masih segar, pencahayaan juga lebih lembut dan area belum terlalu ramai. Di hari libur, tempat ini bisa sangat populer, jadi strategi waktu adalah kunci supaya pengalamanmu terasa lebih personal.

Sejarah Singkat yang Membuatnya Punya Aura Tua dan Berkarakter
Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata yang fotogenik, kawasan ini memiliki cerita pengelolaan hutan yang panjang. Sejumlah sumber menyebut area ini pernah berfungsi sebagai tempat penimbunan kayu, terkait aktivitas kehutanan yang dikelola Perhutani, lalu kemudian viral sebagai lokasi foto pada era media sosial dan berkembang menjadi obyek wisata.
Dalam catatan media, masyarakat setempat juga mengenal nama lama Tapel Pelas, dan ada kisah perubahan fungsi kawasan ketika aktivitas penimbunan kayu bergeser, sehingga area menjadi lebih “tenang” dan akhirnya dilihat orang sebagai ruang wisata yang unik.
Bagian yang menarik dari sejarahnya adalah: De Djawatan tidak lahir dari konsep taman buatan yang ditata dari nol, tetapi dari ruang yang sudah lama ada, lalu “ditemukan kembali” sebagai destinasi. Kesan tua itu bukan tempelan, melainkan terasa dari bentuk pohon, tekstur batang, dan cara cahaya bergerak di sela dedaunan.
Suasana di Dalam Hutan: Teduh, Sunyi yang Ramah, dan Cahaya yang Cantik
Begitu masuk, ada sensasi suhu turun beberapa tingkat. Trembesi menciptakan kanopi luas, membuat sinar matahari menembus dalam bentuk berkas tipis yang sering jadi incaran kamera. Pada jam tertentu, terutama pagi dan sore, kamu akan melihat kombinasi bayangan dahan dan rumput hijau yang tampak seperti karpet alam.
Kesan “magis” yang sering disebut orang sebenarnya datang dari beberapa elemen yang bekerja bareng:
- Skala pohon yang besar dan berjarak rapi, sehingga mata menangkap perspektif yang kuat.
- Bentuk cabang trembesi yang melengkung dan menyebar, membentuk lorong alami.
- Tumbuhan epifit, pakis, dan lumut yang menambah detail visual.
- Cahaya yang tersaring, membuat warna hijau terlihat kaya.
- Ruang yang cukup lapang, jadi kamu bisa menyusuri tanpa merasa sesak.
Kalau kamu tipe yang suka berjalan pelan sambil memperhatikan detail, De Djawatan bisa terasa seperti tempat latihan “melambat”. Tidak perlu buru buru mencari spot, karena di banyak sudut, latarnya sudah cantik apa adanya.

Spot Foto Paling Dicari: Lorong Trembesi sampai Tekstur Epifit
De Djawatan dikenal sebagai lokasi yang sangat ramah kamera. Begitu ponsel diangkat, hampir selalu ada komposisi yang menarik, entah itu garis perspektif jalan setapak, cabang membentuk bingkai alami, atau detail batang tua yang bertekstur.
Yang sering diburu pengunjung biasanya:
- Lorong trembesi: berdiri di tengah jalur, ambil sudut agak rendah supaya kanopi tampak megah.
- “Frame” dari cabang: cari dahan yang membentuk lengkungan, lalu posisikan subjek di tengah.
- Close up tekstur: lumut, pakis, dan epifit di cabang bisa jadi foto detail yang estetik.
- Siluet cahaya: saat matahari menembus sela daun, coba foto dengan backlight supaya terlihat dramatis tetapi tetap natural.
- Foto bergerak: jalan pelan sambil menoleh, hasilnya biasanya tampak sinematik.
De Djawatan juga sering disebut cocok untuk sesi foto prewedding dan pemotretan konsep outdoor karena latarnya kuat dan mudah membangun suasana.
Aktivitas Seru di De Djawatan yang Tidak Cuma Foto
Banyak orang datang dengan niat foto, lalu akhirnya betah karena ada beberapa cara menikmati kawasan ini.
Menyusuri kawasan dengan delman atau kereta kuda
Ada sumber yang menyebut pengunjung bisa menjelajah kawasan dengan delman, yang memberi pengalaman pelan dan klasik, cocok untuk keluarga atau yang ingin menikmati tanpa banyak berjalan.
Suara roda dan langkah kuda, ditambah kanopi trembesi, menciptakan sensasi perjalanan tempo dulu yang terasa pas dengan nuansa hutan tua.

Menjelajah dengan ATV
Beberapa informasi wisata menyebut aktivitas ATV tersedia untuk menyusuri area tertentu, yang cocok untuk kamu yang ingin cara menikmati hutan dengan tempo lebih cepat dan sedikit adrenalin.
Jika memilih ATV, tetap utamakan keselamatan dan patuhi jalur yang diizinkan supaya rumput dan akar pohon tetap terjaga.
Piknik ringan dan duduk santai di area teduh
Bila kamu datang pagi, bawa air minum dan camilan sederhana, lalu cari sudut teduh untuk duduk. Sensasi “ngadem” di bawah trembesi tua ini yang sering bikin orang ingin kembali. Beberapa fasilitas seperti gazebo juga disebut tersedia untuk bersantai.
Menikmati pertunjukan atau aktivitas komunitas
Ada sumber wisata yang menyebut kawasan ini kadang menghadirkan pertunjukan seni, yang bisa jadi bonus pengalaman kalau kamu datang di waktu yang pas.
Kuncinya, cek suasana saat datang. Jika ada kegiatan lokal, biasanya atmosfernya makin hidup tanpa menghilangkan nuansa alamnya.
Informasi Tiket Masuk, Jam Operasional, dan Catatan Biaya Kecil
Salah satu alasan De Djawatan ramah untuk wisata spontan adalah biayanya relatif terjangkau. Informasi dari Perhutani menyebut tiket masuk sekitar Rp 6.000 per orang, dengan parkir motor Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000, serta jam buka pukul 08.00 sampai 17.00.
Di sisi lain, beberapa sumber wisata menyebut angka tiket yang sedikit berbeda, misalnya Rp 7.500 per orang, tetapi jam operasional umumnya serupa, mulai pagi sampai sore.
Perbedaan kecil seperti ini bisa terjadi karena pembaruan kebijakan atau periode tertentu. Cara paling aman, siapkan uang tunai lebih, dan tanyakan di loket saat masuk.

Waktu Terbaik Berkunjung: Pagi Lembut atau Sore Hangat
Mau dapat foto terbaik dan suasana yang lebih lengang, dua waktu ini paling ideal:
- Pagi: cahaya lembut, udara paling segar, dan pengunjung belum memadati jalur.
- Sore: sinar cenderung miring, bayangan pohon panjang, dan warna hijau terlihat lebih hangat.
Beberapa panduan menyarankan jam pagi sekitar 07.00 sampai 09.00 atau sore menjelang tutup sebagai waktu yang paling enak untuk sesi foto.
Kalau kamu ingin suasana yang lebih “sunyi”, hindari puncak siang pada akhir pekan. Selain lebih ramai, cahaya siang juga sering terlalu keras untuk foto di ponsel, sehingga detail daun mudah “pecah” dan wajah bisa tampak kontras.
Tips Foto Biar Hasilnya Kelihatan Mahal Tapi Tetap Natural
Kamu tidak butuh perlengkapan rumit untuk pulang membawa foto yang memuaskan. Yang penting adalah cara membaca cahaya dan memanfaatkan bentuk pohon.
- Gunakan mode potret atau fokus manual: latar trembesi akan terlihat lebih lembut, subjek jadi menonjol.
- Ambil sudut rendah: pohon terlihat lebih tinggi, kanopi tampak megah.
- Cari “bingkai” alami: cabang melengkung bisa jadi frame yang membuat foto terasa terkurasi.
- Sisakan ruang kosong: biarkan kanopi mengisi sebagian besar frame untuk menonjolkan skala.
- Jangan memaksa pose: cukup berjalan pelan, menoleh, atau duduk santai, hasilnya sering lebih jujur dan berkelas.
“Yang membuat De Djawatan istimewa justru ketika kamu berhenti mengejar spot, lalu membiarkan pohon pohon itu menyusun panggungnya sendiri.”
Fasilitas yang Membuat Wisata Ini Nyaman untuk Keluarga
Karena sudah dikelola sebagai wanawisata, De Djawatan dilengkapi fasilitas penunjang yang membantu pengunjung merasa nyaman. Daftar fasilitas yang sering disebut mencakup toilet, musala, warung makan atau warung kopi, area parkir, gazebo, serta beberapa sarana tambahan lain.
Keberadaan fasilitas ini penting, apalagi kalau kamu datang bersama keluarga, membawa anak, atau sekadar ingin santai tanpa merasa “terlalu jauh dari akses dasar”.
Rekomendasi Penginapan: Nyaman untuk Explore Banyuwangi Selatan
Menginap yang paling fleksibel biasanya memilih area Kota Banyuwangi atau kawasan yang memudahkan akses ke destinasi lain seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, atau kuliner pusat kota. De Djawatan sendiri berada di Cluring Benculuk, sehingga kamu bisa memilih menginap di kota untuk pilihan lebih banyak, atau mencari penginapan bernuansa pantai jika ingin sekalian ke selatan.

Berikut rekomendasi jenis penginapan yang bisa kamu sesuaikan dengan gaya perjalanan.
| Area Menginap | Tipe yang Cocok | Catatan Singkat |
|---|---|---|
| Pusat Kota Banyuwangi | Hotel bisnis dan boutique | Ideal untuk itinerary campur: kota, hutan, pantai |
| Area dekat Pelabuhan Ketapang | Hotel transit dan resort sederhana | Lebih strategis untuk mobilitas, bukan yang paling dekat ke De Djawatan |
| Kawasan selatan Banyuwangi | Homestay dan penginapan bernuansa alam | Pas untuk yang ingin fokus jelajah Cluring dan sekitarnya |
| Area wisata Ijen | Homestay pegunungan | Jarak ke De Djawatan perlu strategi rute, tapi masih satu rangkaian trip Banyuwangi |
Jika kamu ingin perjalanan terasa ringan, model menginap di pusat kota lalu melakukan perjalanan pagi ke De Djawatan adalah opsi paling “aman” untuk pertama kali. Setelah itu, kamu bisa lanjut ke destinasi lain tanpa harus pindah pindah terlalu sering.
Rekomendasi Kuliner di Sekitar: Dari Rasa Rumahan sampai Khas Banyuwangi
Habis dari De Djawatan, biasanya perut mulai terasa minta diisi, apalagi kalau kamu banyak jalan kaki dan foto. Di sekitar kawasan wisata, sering ada warung lokal yang menjual makanan dan minuman sederhana. Beberapa sumber juga menyebut keberadaan warung makan dan kafe di sekitar area wisata.

Agar pengalamanmu makin “Banyuwangi”, ini daftar kuliner yang layak kamu cari di rute selatan atau saat kembali ke kota:
- Rujak soto Banyuwangi: perpaduan rujak sayur dan kuah soto yang unik, terdengar aneh, tapi bikin kangen.
- Sego tempong: nasi dengan sambal pedas khas yang “menampar” lidah, cocok untuk pemulihan energi setelah jalan.
- Pecel pitik: olahan ayam kampung dengan bumbu kelapa, salah satu ikon rasa Banyuwangi yang sering diburu.
- Iwak pe: olahan ikan pari asap yang gurih, biasanya muncul di warung tertentu.
- Kopi dan jajanan lokal: pilih warung kopi setempat, duduk sebentar, biarkan perjalanan terasa lebih lambat.
Kalau kamu ingin opsi paling mudah, makanlah di sekitar area wisata dulu untuk mengisi tenaga, lalu lanjutkan eksplorasi kuliner khas di pusat kota saat sore atau malam.
Lima Hal yang Membuat De Djawatan Wajib Masuk Daftar Wisata Banyuwangi
De Djawatan punya banyak sisi menarik, tetapi ada lima hal yang paling sering membuat orang jatuh hati. Bagian ini juga bisa jadi panduan cepat tentang apa yang perlu kamu perhatikan saat berada di sana.
1. Kanopi trembesi yang membentuk “katedral” alami
Trembesi di De Djawatan menciptakan atap hijau yang lebar, membuat ruang di bawahnya terasa seperti aula alam. Saat kamu berdiri di tengah jalur dan menatap ke atas, cabang menyebar seperti langit langit besar, dengan cahaya menetes di sela daun. Ini pengalaman visual yang jarang kamu temukan di tempat lain, apalagi dalam kawasan yang relatif mudah diakses.
Di titik tertentu, kamu akan melihat dahan seolah “berpegangan” satu sama lain, membentuk lengkungan. Pada momen seperti ini, banyak orang spontan menurunkan suara, bukan karena takut, tetapi karena suasananya minta dihormati.
2. Tekstur epifit dan pakis yang menambah karakter fotogenik
De Djawatan bukan hanya kumpulan pohon besar. Detail epifit, benalu, dan pakis yang menempel di batang dan cabang membuatnya tampak seperti hutan tua di film. Wikipedia menyebut pepohonan trembesi di De Djawatan dipenuhi tumbuhan epifit, dan ini salah satu alasan visualnya begitu khas.
Bagi fotografer, tekstur adalah segalanya. Di sini, tekstur datang alami: lumut, serat batang, dan rumpun pakis yang seperti aksesori hijau.
3. Perspektif lorong yang “jadi” dari banyak sudut
Kamu tidak perlu berjalan jauh untuk menemukan spot. Begitu masuk, jalur dan jarak pohon menciptakan garis perspektif. Ini yang membuat De Djawatan terasa “fotogenik konsisten”. Mau pakai kamera profesional atau ponsel, hasilnya cenderung mudah terlihat rapi, karena alamnya sudah menyusun komposisi.
Triknya, pilih satu arah yang lebih sepi, tunggu beberapa detik sampai jalur kosong, lalu ambil foto beruntun. Dalam satu menit, biasanya kamu sudah dapat satu gambar yang “klik”.

4. Suasana teduh yang cocok untuk healing tanpa ribet
Kata “healing” sering dipakai sembarangan, tetapi di De Djawatan, alasan orang ingin berdiam memang jelas: teduh, hijau, dan ritmenya pelan. Beberapa sumber menyebut suasananya tenang dan jauh dari hiruk pikuk, sehingga nyaman untuk rehat sejenak.
Kalau kamu tipe yang mudah lelah oleh keramaian, datang di hari biasa bisa memberi pengalaman yang terasa seperti punya hutan sendiri, meski tetap ada pengunjung lain.
5. Cerita tempat yang membuatnya punya “jiwa”, bukan sekadar latar
De Djawatan sering dibicarakan bukan hanya karena cantik, tetapi juga karena latar sejarah fungsinya sebagai tempat penimbunan kayu dan kawasan yang dikelola kehutanan. Cerita ini membuat kunjunganmu terasa lebih bernilai: kamu melihat sebuah ruang yang berevolusi, dari kawasan kerja menjadi ruang wisata yang dicintai.
Saat tahu ceritanya, kamu akan memandang batang pohon tua itu dengan cara berbeda. Ia bukan dekorasi, melainkan saksi waktu.
Fakta Menarik yang Sering Membuat Pengunjung Makin Penasaran
Ada beberapa fakta yang sering disebut tentang De Djawatan dan menambah daya tariknya:
- Luas kawasan kerap disebut sekitar 3,8 hektare, dan diisi puluhan pohon trembesi tua yang membentuk lanskap khas.
- Tempat ini berada dalam pengelolaan Perhutani, dan informasi resmi Perhutani juga memuat tiket serta jam operasional.
- De Djawatan viral sekitar tahun 2017 menurut liputan media, lalu berkembang sebagai destinasi wisata yang dilengkapi fasilitas dasar.
- Julukan mirip hutan di film The Lord of the Rings sering muncul di berbagai liputan, terutama menyebut Fangorn Forest sebagai pembanding suasana.
Fakta fakta ini menjelaskan mengapa De Djawatan cepat menempel di ingatan. Ia memadukan visual yang kuat, akses yang mudah, dan cerita yang membuatnya terasa hidup.
Etika Berkunjung: Biar Tetap Indah untuk yang Datang Setelah Kita
De Djawatan adalah ruang alam yang sensitif, apalagi dengan pohon tua dan epifit yang menempel. Perhutani juga mengingatkan bahwa trembesi bisa rapuh dan perlu pemeliharaan berkala.
Supaya pengalaman kita tidak meninggalkan jejak buruk, pegang prinsip sederhana ini:
- Jangan memanjat pohon atau menarik epifit untuk properti foto.
- Ikuti jalur yang ada, hindari menginjak akar besar terlalu sering.
- Buang sampah pada tempatnya, atau bawa pulang jika tempat sampah penuh.
- Jaga volume suara, karena ketenangan adalah bagian dari pesonanya.
- Jika membawa anak, dampingi dan jelaskan bahwa ini bukan taman bermain biasa.
Di tempat seindah ini, sopan santun terhadap alam adalah cara paling elegan untuk terlihat “berkelas” sebagai wisatawan.
Ide Itinerary Singkat: Biar Sehari di Banyuwangi Terasa Penuh tapi Tidak Melelahkan
Kalau kamu ingin merangkai De Djawatan dalam satu hari perjalanan yang nyaman, pola ini biasanya pas:
- Pagi: berangkat menuju De Djawatan, eksplor dan foto sampai menjelang siang.
- Siang: makan di warung sekitar, istirahat sebentar.
- Sore: lanjut ke destinasi selatan lain jika ingin, atau kembali ke kota untuk kuliner khas.
- Malam: santai di pusat kota, cari jajanan lokal, dan tidur lebih awal jika besok mengejar Ijen.
Model itinerary ini memberi ruang untuk menikmati, bukan sekadar mengejar checklist.
