Bayangkan pagi yang dimulai dengan kabut tipis menggantung di atas padang savana, suara burung air memecah sunyi, dan garis matahari pertama menyalakan warna tembaga pada rumput ilalang. Itulah pagi saya di Taman Nasional Wasur hamparan alam paling luas dan liar di ujung timur Indonesia, kerap dijuluki “Serengeti‑nya Indonesia” karena lanskap savana dan rawa‑rawanya yang dramatis. Sebagai travel vlogger Wonderful Indonesia, saya datang bukan hanya untuk memburu footage satwa dan langit besar, tapi juga untuk belajar dari Marind masyarakat adat penjaga lanskap Trans‑Fly bagaimana hidup serasi dengan air pasang, rumput, dan angin.
Lokasi, Akses, dan Orientasi
Di mana letaknya
Taman Nasional Wasur berada di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Secara ekologis, kawasan ini termasuk wilayah Trans‑Fly sabuk savana, rawa, dan mangrove yang membentang di selatan Pulau Nugini. Kota gerbangnya adalah Merauke, sekitar 70–90 menit berkendara dari beberapa pintu masuk taman.
Cara menuju Merauke dan gerbang Wasur
- Pesawat: Terbang ke Bandara Mopah (MKQ) Merauke. Rute umum via Jayapura, Makassar, atau Timika (tergantung maskapai dan musim).
- Dari Merauke ke taman: Jalan darat menuju Wasur, Yanggandur, Rawa Biru, atau Sota (pos perbatasan). Waktu tempuh 45–120 menit bergantung jarak dan kondisi jalan.
- Kendaraan: 4×4 sangat dianjurkan saat musim hujan karena beberapa segmen berubah berlumpur. Musim kering relatif bersahabat untuk 2WD high‑clearance.
Perizinan, tiket, dan pemandu
- Tiket & registrasi: Lapor di Balai Taman Nasional Wasur/pos pintu. Simpan karcis dan ikuti petunjuk rute.
- Pemandu lokal: Saya merekomendasikan menggunakan guide dari kampung (Wasur, Yanggandur, Rawa Biru). Mereka tahu jalur satwa, titik foto, dan tata krama adat.
- Drone & pemotretan: Operasional drone wajib izin dari pengelola taman dan aparat setempat terutama dekat permukiman dan area sensitif satwa.

Lanskap Khas: Savana, Rawa, dan Mangrove
Savana Trans‑Fly
Wasur memamerkan savana luas berhias eucalyptus/kayu putih, melaleuca (paperbark), dan ilalang yang berubah warna mengikuti musim. Saat kering, padang memantulkan keemasan; saat basah, hijau mendominasi dan kawanan burung air tampak di cekungan‑cekungan.
Rawa, sungai, dan danau
Jantung pengalaman ada di Rawa Biru dan mosaik rawa musiman lainnya. Di sini, air menjadi panggung: perahu kecil warga melintas, teratai membuka kelopak, sementara kuntul dan bangau mendarat seperti tanda baca di atas permukaan yang tenang. Sungai‑sungai kecil mengalir ke mangrove pesisir habitat penting ikan, udang, dan burung.
Hutan dataran rendah & tepian sagu
Di beberapa koridor, hutan dataran rendah memeluk tepian rawa dan kebun sagu pangan utama orang Marind. Transisi dari savana ke rimbun hutan membuat perjalanan terasa seperti pergantian bab dalam film alam liar.
Satwa Ikonik yang Bikin Jantung Berdegup
Burung: jalur terbang Asia–Australia
Wasur adalah mimpi bagi birdwatcher. Di musim migrasi, dataran basah menjadi panggung burung pantai (gajahan, kedidi, trinil), kuntul & bangau, ibis, hingga pelikan Australia. Sepanjang tahun Anda berpeluang menjumpai Black‑necked Stork (bangau leher hitam), rajawali, kingfisher, dan kawanan angsa‑angsa liar di perairan dangkal.
Mamalia: wallaby dan kawan‑kawan
Di padang savana, perhatikan siluet kangguru tanah (wallaby) yang melompat senyap bayangan cepat yang menyilang jalan saat senja. Ada pula kuskus di tepian hutan, rusa timor (populasi introduksi yang sudah lama menetap), dan babi hutan yang kadang menyeberang jalur.
Reptil dan amfibi: penghuni sunyi perairan
Di rawa dan muara, buaya muara mengintai dari permukaan air yang nyaris tanpa riak. Biawak memanaskan badan di batang kayu, sementara katak pohon bersuara lantang setelah hujan. Beri jarak aman dari tepi air, terutama saat pagi dan senja.
Catatan etika: Satwa di Wasur aktif mengikuti siklus air dan suhu. Hindari mengejar terlalu dekat, jangan memotong jalur lintas, dan tetap di jalur resmi.
Musim, Cuaca, dan Waktu Terbaik
Dua wajah Wasur
- Musim kering (± Mei–Oktober): Savana keemasan, akses relatif mudah, peluang sunrise/sunset dramatis. Debu cukup pekat siapkan buff.
- Musim basah (± November–April): Rawa penuh, birding spektakuler, langit berawan fotogenik. Namun beberapa jalur tergenang/berlumpur dan nyamuk meningkat.
Jam aktivitas emas
- Pagi (06.00–09.00): Burung aktif, cahaya lembut, wallaby kadang masih terlihat.
- Sore (16.30–18.30): Siluet savana, hembusan angin sejuk, dan suara satwa yang kembali ke peraduan.
Itinerary Rekomendasi
3 Hari 2 Malam – “Air, Rumput, Angin”
Hari 1 – Merauke → Rawa Biru & Sota
Pagi tiba di Merauke, belanja logistik & air. Siang menuju Rawa Biru: naik perahu kecil (musim basah) atau berjalan di tepian danau (musim kering). Sore lanjut ke Sota (pos perbatasan) untuk menikmati sunset di savana sekitar. Malam kembali ke penginapan Merauke.
Hari 2 – Yanggandur & savana Wasur
Start subuh ke Kampung Yanggandur. Birdwatching di cekungan rawa musiman, lanjut menyusuri savana bersama pemandu kampung. Siang rehat—hindari panas puncak. Sore berburu siluet wallaby dan bangau leher hitam di backlight. Malam: sesi cerita budaya dengan tetua kampung (dengan izin), belajar tentang pangan sagu dan aturan adat.
Hari 3 – Mangrove pesisir & pulang
Pagi jelajah koridor mangrove di sisi selatan (cek rute dengan petugas taman). Rekam ambient sound burung dan serangga. Kembali ke Merauke untuk kuliner siang, lalu terbang sore/malam.
2 Hari 1 Malam – “Kilas Wasur”
Hari 1: Merauke → Rawa Biru, sunset di Sota.
Hari 2: Subuh birding di Yanggandur, jelajah savana Wasur, pulang.

Aktivitas Favorit Versi Travel Vlogger
Safari savana dengan pemandu
Bukan safari mobil berat lebih tepat disebut slow drive di jalan tanah dan berhenti di titik rawan perlintasan satwa. Kunci keberhasilan: pelan, sabar, dan sunyi. Biarkan alam membuka tirainya sendiri.
Birdwatching & “little moments”
Siapkan daftar target: pelikan, ibis, kuntul, bangau leher hitam, kingfisher, rajawali. Jangan lupa “momen kecil”: sayap capung diterpa matahari, jejak kaki wallaby di tanah basah, atau buih ombak kecil di tepian Rawa Biru.
Wisata budaya Marind
Dengan izin, mampir ke rumah panggung, menyimak tifa dipukul pelan, atau melihat proses pengolahan sagu. Jangan rekam ritual atau benda sakral tanpa persetujuan. Bawa hadiah bermanfaat (alat tulis) hanya melalui koordinator kampung agar adil.
Astrofoto dan ambience malam
Langit Wasur pada musim kering sering jernih. Ambil long exposure di savana (jauh dari hutan kering dan tanpa risiko api). Rekam suara malam orkestra serangga yang menenangkan.
Tips Fotografi & Vlog
Komposisi & cahaya
- Gunakan leading lines dari jalan tanah menuju horizon.
- Low angle di savana untuk membesarkan rumput ilalang, berikan skala pada bangau/ wallaby.
- Backlight sore hari menghasilkan siluet burung air yang dramatis.
Peralatan
- Lensa 16–35 mm untuk lanskap “sky‑heavy”, 70–200 mm untuk satwa, 300 mm+ jika berburu close‑up burung.
- Mic clip‑on + perekam ambience; angin savana bisa mengganggu audio.
- Polarizer menekan silau permukaan air; ND untuk motion blur angin di ilalang.
Etika & keselamatan visual
- Drone hanya bila berizin dan jauh dari satwa.
- Jangan mengejar kawanan dengan kendaraan/pejalan.
- Jaga jarak dari tepi rawa ingat buaya muara.
Logistik, Transport, dan Penginapan
Basis kota & opsi bermalam
- Merauke: hotel/guesthouse nyaman, listrik stabil, stok logistik, ATM, dan bengkel.
- Homestay kampung (Wasur/Yanggandur/Rawa Biru): tersedia terbatas, wajib koordinasi pemandu & aparat kampung.
- Camping: hanya di lokasi yang ditunjuk oleh pengelola taman; hindari mendirikan tenda di dekat jalur satwa atau tepi air.
Transport
- Sewa 4×4 + sopir lokal direkomendasikan. Musim basah = jalan licin, kubangan, dan crossing air dangkal.
- BBM & air: isi penuh di kota; bawa air minum 3–4 L/orang/hari.
- Navigasi: unduh peta offline. Sinyal seluler fluktuatif.
Makanan & perbekalan
- Bawa snack energi (kacang, kurma, biskuit) dan lunchbox untuk makan di lapangan.
- Di kampung, beli produk lokal (pisang, kelapa, sagu) sebagai dukungan ekonomi.
Estimasi Biaya 3H2M (per orang)
Komponen | Hemat (IDR) | Nyaman (IDR) |
---|---|---|
Sewa 4×4 + sopir (dibagi 3 org) / hari | 300.000–450.000 | 500.000–750.000 |
BBM + parkir | 120.000–200.000 | 180.000–300.000 |
Pemandu lokal (per hari, dibagi 3 org) | 100.000–200.000 | 200.000–350.000 |
Tiket/registrasi kawasan (total trip) | 30.000–60.000 | 60.000–120.000 |
Homestay/penginapan (2 malam) | 300.000–600.000 | 700.000–1.400.000 |
Makan & logistik lapangan | 250.000–450.000 | 450.000–800.000 |
Donasi adat & dukungan komunitas | 100.000–200.000 | 200.000–400.000 |
Lain‑lain (tip, air minum, camilan) | 80.000–150.000 | 150.000–300.000 |
Total Perkiraan (di luar tiket pesawat) | 1.28–2.31 juta | 2.44–4.42 juta |
Angka bersifat indikatif berubah mengikuti musim, ketersediaan kendaraan, dan negosiasi lokal. Berbagi kendaraan & homestay menurunkan biaya.
Kesehatan & Keselamatan
Panas, dehidrasi, dan nyamuk
- Topi lebar, kemeja lengan panjang, buff, sunscreen adalah wajib.
- Minum rutin sebelum haus; elektrolit ringan membantu.
- Gunakan repelan nyamuk; pertimbangkan konsultasi medis terkait malaria sebelum perjalanan.
Buaya muara & air
- Jaga jarak dari tepi rawa/sungai. Jangan berdiri membelakangi air saat memotret.
- Tanyakan titik aman pada pemandu; jangan bermain air tanpa kepastian.
Kebakaran savana & petir
- Musim kering rawan api liar; hindari menyalakan api terbuka.
- Saat awan petir mendekat, menjauhlah dari area lapang & pohon tinggi.
Darurat & komunikasi
- Simpan kontak Balai TN Wasur, puskesmas terdekat, dan pos Sota.
- Bawa P3K (antiseptik, perban, obat pribadi), peluit, dan senter/headlamp.

Etika Konservasi & Budaya
Konservasi praktis
- Tetap di jalur resmi; vegetasi savana & rawa rapuh.
- Bawa turun semua sampah. Gunakan botol isi ulang.
- Jangan memberi makan satwa, jangan memetik flora.
Tata krama di kampung Marind
- Minta izin sebelum memotret orang, rumah, atau benda budaya.
- Hormati wilayah sakral dan aturan adat (mis. larangan berburu/ambil hasil hutan pada periode tertentu).
- Saat membeli kerajinan/produk pangan, tawar dengan santun dan bayar harga adil.
Aksesibilitas & Keluarga
- Rawa Biru dan beberapa segmen savana memiliki jalur datar, namun sebagian besar kawasan tetap alam liar dengan jalan tanah dan batu.
- Untuk keluarga, pilih slow drive pagi/sore, singgah di titik pandang aman, dan hindari berjalan jauh saat panas puncak.
- Bagi lansia, sediakan kursi lipat & cukup air; pilih rute dekat kendaraan.
Checklist Perlengkapan
Wajib
- Topi lebar, kemeja lengan panjang tipis, celana ringan, sepatu trail.
- Botol minum 1–2 L + cadangan galon di kendaraan.
- Sunscreen, repelan nyamuk, kacamata UV.
- P3K personal, headlamp, power bank, peta offline.
Fotografi & produksi
- Kamera utama + tele untuk satwa; tripod kecil; lap microfiber; dry bag.
- Mic clip‑on + deadcat; perekam ambience.
- Polarizer & ND.
Rute Vlog 90 Menit – “Wasur: Air, Rumput, Angin”
- Pembuka (0–5’): Establishing shot savana; teks lokasi; close‑up rumput digoyang angin.
- Segmen 1 (5–25’): Rawa Biru pelikan/kuntul mendarat; suara dayung; wawancara singkat pemandu tentang musim air.
- Segmen 2 (25–55’): Yanggandur wallaby di padang, backlight sore; cutaway jejak kaki & siluet bangau.
- Segmen 3 (55–75’): Budaya sagu, tifa, obrolan ringan tentang aturan adat & pentingnya rawa bagi pangan.
- Penutup (75–90’): Sunset savana; time‑lapse langit; voice‑over reflektif tentang belajar melambat di tanah angin.
FAQ Singkat
Kapan waktu terbaik ke Wasur?
Musim kering untuk akses dan sunset; musim basah untuk birding spektakuler. Keduanya menarik pilih sesuai prioritas konten.
Apakah perlu 4×4?
Sangat dianjurkan, terutama musim basah. Musim kering lebih fleksibel, namun ground clearance tetap membantu.
Bolehkah bawa drone?
Bisa dengan izin dari pengelola taman & aparat setempat. Dilarang terbang dekat satwa, permukiman, dan perbatasan tanpa prosedur.
Apakah sinyal tersedia?
Fluktuatif. Unduh peta offline dan informasikan rencana rute ke penginapan/pemandu.
Aman untuk anak?
Aman dengan pengawasan ketat. Jauhi tepi air, hindari panas puncak, dan gunakan pelampung jika naik perahu.
Belajar dari Lanskap yang Besar
Di Wasur, saya belajar membiarkan alam memimpin. Savana mengajarkan kesabaran, rawa mengajarkan ketekunan, dan angin mengajarkan rendah hati. Di sinilah Indonesia memperlihatkan wajah timurnya yang nyaris tak tersentuh tempat di mana kita datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk mendengar. Datanglah dengan hati ringan, pulanglah dengan kartu memori penuh, dan yang lebih penting dengan rasa hormat yang lebih besar pada alam serta masyarakat penjaganya.